Thursday, June 23, 2011

13.11.2011 after 5 years ago... (Part 1)

 13.11.2011
Aku memperhatikan barisan angka itu, terus memperhatikannya. Ada yang aneh kah? . Kata orang, 13 itu adalah angka sial. Mungkin bagiku itu berlaku untuk beberapa hal, namun tidak untuk esok. Entah kenapa dadaku terasa sesak. Aku bingung harus bagaimana. Sedih? senang? atau.. biasa saja?. Semua tercampur menjadi satu rasa yang tidak bisa aku ungkap kan. Sesuatu yang aku nantikan sejak lama, mungkin 5 tahun, atau lebih, ahhh.. sudah lah, aku tidak peduli berapa lama aku telah menunggu, yang terpenting adalah, besok adalah hari itu.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tiba-tiba teringat pada masa itu, masa dimana sebuah waktu adalah sesuatu yang benar benar berharga. Masa dimana sentuhan tangan seperti gembok yang tidak bisa dilepaskan dari pintunya. Kau, dengan memakai celana jeans berwarna hitam, tanktop berwarna putih yang kau lapisi dengan cardigan berwarna abu-abu di luarnya. Rambut indahmu kau biarkan terurai jatuh menutupi bahu mu, dan ya.. sesuatu yang selalu kau kenakan, sebuah kalung berinisialkan nama mu. Aku masih mengingatnya sangat jelas, bahkan aku masih hafal dengan harum parfum mu pada sore itu.
Saat itu kita hanya terdiam, tanpa mengeluarkan satu kata pun. Yang aku ingat hanyalah, kamu terus menatap ku dengan tajam, dan aku.. aku hanya bisa menunduk tanpa berani sedikit pun melihat bahkan melirik ke arah mu. Kamu memutuskan untuk berpisah, dan kamu bilang itu hanya untuk sementara. Aku tidak tahu apakah aku harus percaya? atau mungkin sebaliknya?. Saat itu aku tidak bisa berfikir dengan jernih, bahkan hanya untuk mengingat siapa aku, kamu, dimana kita, pada hari itu.. aku tidak mampu.

"aku akan kembali, percaya lah.."
"........"
"tunggu aku, hanya sementara saja, aku mohon..sangat memohon"
"se..sementara? maksudmu.. aku harus menunggu lebih dari 1.830 hari atau mungkin lebih dan kamu bilang itu sementara????"

hanya itu percakapan singkat yang aku ingat. Sampai akhirnya kamu memelukku erat, menagis di dalamnya , sangat lama sekali. Sampai tiba-tiba, setelah kau merasa puas, kau mengeluarkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang dari dalam tas mu.
 "maafin aku, aku ga bermaksud untuk benar-benar pergi, aku ga punya pilihan lain. If you're meant to be, time will do anything to bring us together once again...",

dan kamu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipiku. Aku hanya terdiam.

Kau pergi melangkah, satu.. dua.. tiga.... aku berharap kau akan berbalik, namun ternyata, waktu memisahkan kita. Dengan cermat aku perhatikan tubuhmu menjauh dari hadapanku. Mengecil..mengecil..dan mengecil, sampai akhirnya kamu masuk ke dalam sebuah pintu dan aku tidak bisa melihatmu lagi. Untuk saat ini, aku hanya bisa menarik nafas panjang, berharap semua akan baik-baik saja. Sambil memegang kotak itu, aku beranjak dari stasiun tersebut.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk di teras depan. Entah kenapa suasana mendung saat ini benar-benar membuatku sangat tidak nyaman, dan untuk hari ini, aku rasa aku akan tidak bersahabat dengan siapa pun. Tak sabar, aku membuka kotak yang tadi kau berikan. Kertas? dan.. foto kita...? apa arti ini semua??
Perlahan aku membuka kertas itu. Dengan hati hati aku mulai membaca satu demi satu huruf yang kau rangkai menjadi sebuah kata, kalimat, paragraf, surat, ya.. surat.

"..It's your golden ticket.."

aku ga tau mulai dari mana, semua ini berjalan begitu cepat. Tiba-tiba, rencana yang kita udah bangun secara matang hancur begitu saja hanya karena kepergianku. Maafkan aku, aku berjanji akan kembali. Pada tanggal yang sama, di tempat yang sama. Tempat dimana kamu mengantarku hari ini, tempat dimana kamu mungkin membenciku, tempat dimana sepertinya waktu berjalan sangat cepat dan Tuhan tidak adil untuk hari ini. Ketika kamu baca, mungkin kamu lagi maki-maki aku, jangan senyum! aku tau senyum kamu itu palsu (untuk saat ini). Come on, dont ever you show em your stupid face when you were sad. Senyum ya, aku mohon.. aku janji akan selalu ngabarin kamu, entah itu pagi, siang, sore, malam, pagi lagi, ketemu malam lagi. aku janji. Jaga dirimu baik baik. i love you like paris love eiffel tower.. Jakarta love monas, and me love you.. i always do.

Entah mengapa, hati ini semakin sesak. Tanganku mulai meremas kertas itu, sambil perlahan air mata ini menetes begitu saja. I never felt it before, the way i want you to stay but you cant. Dan foto itu, foto dimana kamu sedang tersenyum manja menghadap ke arahku.. aku benar-benar tidak tahan lagi. Ini baru beberapa jam kamu pergi, apa kabarku esok hari?

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Bulan pertama
Kamu masih sering mengabariku.. hidupmu seperti ini, teman temanmu disana, apa yang terjadi bla bla bla.. dan aku merasa lega

Bulan ke-lima.. enam.. tujuh..
kamu mengabariku dengan intensistas yang cukup menurun

Tahun pertama.. kedua.. ketiga..
Aku tidak tahu kamu seperti apa. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, kamu menghilang bagai di telan bumi.. dan aku hanya berfikir something ends because there is something better lined up in the future. Everything is different and everything has changed ! so i have to move on..

Menyadari semua perubahan yang ada, aku hanya bisa tersenyum. Janji? eat that bitch! your sweet words just a bullshit! Dan mulai saat itu, aku merasakan sakit lebih dari sakit yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Haruskah aku menunggu? begitu bodohnya cinta ketika kita sudah terjebak didalamnya.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 

Dan esok adalah hari itu

aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, setelah sekian lama kamu pergi.. akan kah kamu mengenaliku? ah.. bukan itu.. yang terpenting adalah, akankah kamu menepati semua janjimu setelah banyak hari yang kau ingkari?? Aku tidak tau bagaimana pastinya.. yang jelas, sebagai lelaki, aku memutuskan untuk datang. Kalaupun semua berubah, setidaknya kamu bisa memberikan alasan mengapa kamu melakukan hal ini. Sebaiknya aku tertidur, sampai berjumpa, esok.. jika kamu datang, dan aku.. tidak sabar menunggu.

to be continued..

0 comments:

Post a Comment